Selasa, 16 Juni 2009

Tim Robot Indonesia Menang Kompetisi di San Francisco

Tim Robot Indonesia dari Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) di Bandung berhasil meraih juara I dan memperoleh medali emas dalam 'International Robo Games' yang diselenggarakan di San Francisco, AS. Kompetisi Robot Internasional yang berlangsung selama 3 hari (12-14 Juni 2009) itu diperkirakan dihadiri sekitar 3.000 orang.

ADVERTISEMENT

Demikian disampaikan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di San Francisco dalam rilis yang diterima detikcom, Senin (15/6/2009). Kemenangan Indonesia diperoleh melalui penampilan Robot DU-114 yang meraih waktu tercepat dalam mencari sumber api dan memadamkannya dengan semprotan air secara otomatis (api diperagakan dengan menggunakan lilin).

Sedangkan Robot NEXT-116 karya mahasiswa UNIKOM lainnya, Stevanus Akbar, belum memperoleh medali. Meski demikian, Robot NEXT-116 ini merupakan satu-satunya robot yang menggunakan 8 kaki sebagai alat gerak (walking robot) yang ikut bertanding dalam kategori Open Fire Fighting Autonomous Robot tersebut.

Sedangkan robot-robot lainnya menggunakan roda/rantai sebagai alat gerak sehingga NEXT-116 disebut juri sebagai karya robot yang spektakuler untuk kategori tersebut.

Saat menerima medali emas Robo Games dari panitia penyelenggara di panggung kehormatan, Tim Robot Indonesia melambaikan bendera merah putih yang disambut dengan tepuk tangan meriah para penonton yang umumnya adalah warga AS. Kemenangan Tim Robot Indonesia tersebut juga diliput secara langsung oleh kru TV Voice of America (VOA) yang secara khusus datang dari Washington D.C.

Kemenangan ini patut dibanggakan mengingat Tim Robot Indonesia baru pertama kalinya bertanding di luar negeri. Tim dari Indonesia berhasil mengalahkan tim dari negara-negara maju, termasuk dari AS sendiri. Tim ini sebelumnya telah menjuarai Kompetisi Robot Cerdas Indonesia (KRCI) tingkat regional (Jawa-Barat, DKI Jakarta, dan Banten) dan tingkat nasional di Indonesia selama tahun 2007-2008.

Nama robot DU-114 diambil dari singkatan alamat kampus UNIKOM di Bandung (Jl Dipati Ukur No. 114, Bandung). Robot tersebut adalah hasil karya mahasiswa UNIKOM Rudi Hartono di bawah bimbingan Ketua Divisi Robotika UNIKOM Yusrila Yeka Kerlooza.

Tim Robot Indonesia yang terdiri dari Dr Aelina Surya (Purek III sebagai Ketua Tim), Dr Hj Ria Ratna Ariawati (Purek I), Yusrila Y Kerlooza (Ketua Divisi Robotika), Rudi Hartono (mahasiswa), dan Stevanus Akbar Alexander (mahasiswa) merencanakan kembali ke Indonesia pada hari Selasa, 16 Juni 2009, dan diharapkan tiba di Jakarta pada hari Kamis, 18 Juni 2009.

Etika Keseharian Orang Jepang

Minna san genki desu ka??
Hari ini aku lagi demen nyeritain tentang etika keseharian orang Jepang yang membuat kita selalu tertarik untuk menelusurinya lebih lanjut (cieee...ntah apa maksudnya hehehe)
Sebenarnya sih karena aku suka aja untuk tahu mengenai kebiasaan ini makanya mau sharing juga ma teman2 lain…but lumayan juga kan jadi nambah ilmu. Siapa tahu kedepannya kita dihadapkan pada situasi ini ^_^

Etika di Rumah Jepang

Ketika masuk rumah di Jepang, kamu harus membuka sepatu di pintu depan dan menggantinya dengan sandal yang disediakan oleh tuan rumah. Sandal ini bisa kamu gunakan untuk berkeliling rumah kecuali diruang tatami, atau ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu, dsb dimana kamu harus melepaskan sandal tadi dan berjalan dengan atau tanpa kaus kaki. Dan jika kamu ingin ke toilet, lepaskan sandal mu dan ganti dengan sandal khusus toilet yang juga sudah disediakan.

Teknik Duduk

Banyak orang barat yang tidak terbiasa duduk di lantai; jadi bisa dibayangkan kan bagaimana susahnya mereka jika harus duduk dan makan dekat lantai. Ada teknik duduk yang biasa digunakan untuk wanita dan pria, secara formal disebut Seiza. Seiza ini duduk yang bisa buat telapak kaki pegel (susah banget gambarinnya hehehe)
Kalau duduk dalam situasi yang nonformal, untuk laki-laki biasanya menggunakan posisi kaki menyilang sedangkan untuk wanita biasanya menggunakan posisi kedua kakinya disalah satu sisi badan....alias bersimpuh (tau gak, untuk mendapatkan kosakata ‘bersimpuh’ butuh 30 menit bo’ :P).

Aturan Duduk

Tamu yang paling penting akan duduk di tempat kehormatan (kamiza) yang letaknya biasanya paling jauh dari pintu. Sedangkan pemilik rumah atau orang yang tidak begitu penting, duduk di dekat pintu (shimoza). Tentu saja banyak factor lain yang menentukan posisi duduk seseorang.
Yang paling kelihatan kalau kita makan di rumah makan Jepang yang melingkar itu tuh (Seperti rumah makan sushi)...nah...posisi dari orang yang paling penting sampai yang kagak penting juga bisa dilihat disana.

Etika Makan Orang Jepang

Makan di tempat yang memiliki budaya yang berbeda dari kita sangat penting untuk diketahui dan diikuti. Berikut ini adalah aturan dasar dari etika makan orang Jepang yang akan sangat menolongmu ketika kamu makan dirumah orang Jepang.

Meja dan Cara Duduk

Di Jepang, beberapa restoran dan rumah pribadi dilengkapi dengan meja makan rendah. Tentu saja sangat berbeda dengan gaya barat karena di jepang, duduk di lantai dengan kaki disilangkan (untuk laki-laki) dan bersimpuh (untuk perempuan) adalah hal biasa. Ini kayaknya udah dijelasin sebelumnya ya.

Itadakimasu dan Gochisosama

Di Jepang, kamu harus mengucapkan “itadakimasu” (yang artinya “aku sangat bersyukur atas makanan ini”) sebelum memulai makan, dan mengucapkan “goschisosama(deshita)” (“terima kasih atas makanannya”) setelah selesai makan.

Hidangan Pribadi dan Umum

Suatu hal yang biasa bagi kita jika ada hidangan dibagi dalam beberapa piring untuk bisa dimakan bersama (hidangan umum). Kalau etika orang barat tuh, satu hidangan untuk satu orang, berbeda dengan kita di asia. Apalagi Jepang, jika kamu dihidangkan makanan umum, maka kamu harus memindahkan sebagian makanan kedalam piringmu sendiri, tentu saja menggunakan sisi sumpit yang lain (jika kamu sudah menggunakannya) atau bisa juga menggunakan sumpit yang disediakan untuk itu.

Beberapa Kebiasaan yang harus diketahui saat berada di Meja Makan:
* Menggosok hidung didepan publik, apalagi saat makan, adalah kebiasaan yang tidak baik.
*Jika makan harus menghabiskan makanan sampai ke butir terakhir.
* Membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan toilet pastinya bukan hal sopan di budaya manapun.
* Tidak seperti di kawasan asia timur lainnya, buang angin dianggap tidak sopan di jepang.
* Selesai makan, letakkanlah semua peralatan makanmu seperti sebelum kamu makan. Termasuk meletakkan kembali sumpit ke tempat sumpit atau kertas tempat sumpitmu tadi (jika tersedia).

Menarik ya...ternyata di negara manapun bahkan untuk hal-hal kecil pun memang ada manner nya masing-masing. Di Indonesia pastilah ada juga, yang jelas...dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ya gak?? ^_^

Semoga aku bisa "nginjak" Jepang liburan semester ini...Amin.

Budaya Minum Teh

Cara menyeduh dan menikmati teh memang tak sama di setiap wilayah. Untuk itu, ada baiknya Anda simak penjelasan seputar budaya minum teh yang menarik berikut ini.

Seorang ahli teh dari Dinasti Tang di Tiongkok, Lu Yu (Riku U) pernah menulis buku berjudul Ch'a Ching atau Classic of Tea. Buku ini merupakan ensiklopedia mengenai sejarah teh, cara menanam teh, sejarah minum teh, serta cara membuat dan menikmati teh.

Minum teh memang telah menjadi semacam ritual di kalangan masyarakat Tionghoa. Di Cina, budaya minum teh dikenal sejak 3 ribu tahun sebelum Masehi, yaitu sejak pada zaman Kaisar Shen Nung berkuasa. Bahkan, berlanjut di Jepang sejak masa Kamakaru (1192 - 1333) oleh pengikut Zen.

Tujuan minum teh adalah agar mendapatkan kesegaran tubuh selama meditasi yang dapat memakan waktu berjam-jam. Pada akhirnya, tradisi minum teh menjadi bagian dari upacara ritual Zen. Upacara minum teh menjadi ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu.

Pada zaman itu upacara ini disebut cha no yu. Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus yang disebut chashitsu.

Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam menyiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu, seperti memilih lukisan dinding (kakejiku), bunga (chabana), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang. Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tetapi sebagai seni dalam arti luas.

Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh, dan cara meletakkan benda seni dalam ruangan khusus, serta berbagai pengetahuan seni yang bergantung kepada aliran upacara minum teh yang dianut.

Seni upacara minum teh memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh, dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan.

Umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang digiling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut matchado, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchado.

Dalam percakapan sehari-hari di Jepang, upacara minum teh cukup disebut ocha (teh). Istilah ocha no keiko dapat berarti belajar mempraktekkan tata krama penyajian teh atau belajar etiket sebagai tamu dalam upacara minum teh.

Sedangkan di Korea, tradisi minum teh diperkenalkan dari Cina sejak lebih dari 2 ribu tahun lalu. Teh digunakan dalam upacara-upacara persembahan. Bentuk kebudayaan teh bangsa Korea ada dalam upacara teh Korea yang disebut Dado.

Tips Menyimpan Teh
1. Simpan di wadah kering dan tertutup. Hindari dari sinar matahari langsung, karena akan akan mempengaruhi kualitasnya.
2. Jangan taruh teh di dalam lemari es, karena wadahnya akan berembun yang dapat membuat teh berjamur. Juga dapat membuat teh terkontaminasi dengan bau makanan lainnya.
3. Beli teh sesuai kebutuhan, karena teh yang sudah dibuka hanya tahan selama 1 bulan, setelah itu harum teh akan hilang.
4. Teh tidak memerlukan suhu yang tinggi dalam menyeduhnya. Setelah air mendidih, angkat lalu diamkan 3 menit. Masukkan tehnya lalu diamkan 5 menit. Jangan lebih dari 5 menit, karena zat tannin akan keluar dan menyebabkan teh menjadi pahit.
5. Teh sebaiknya diseduh dalam teko keramik atau tanah seperti teko untuk teh poci. Keramik adalah penghantar panas yang buruk, maka sangat sesuai digunakan untuk menyeduh teh agar rasa dan aromanya dapat dinikmati secara optimal.

Khasiat Teh
Teh juga sering dikaitkan dengan kegunaannya untuk kesehatan. Teh hijau dan teh pu-erh sering digunakan untuk berdiet dan melangsingkan badan. Orang juga sering menghubung-hubungkan teh dengan keseimbangan yin yang.

Teh hijau cenderung yin, teh hitam cenderung yang, sedangkan teh oolong dianggap seimbang. Teh pu-erh yang berwarna coklat dianggap mengandung energi dan sering dicampur bunga seruni yang memiliki energi yin agar seimbang.

Meski saat itu belum bisa dibuktikan khasiat teh secara ilmiah, namun masyarakat Tionghoa sudah meyakini teh dapat menetralisasi kadar lemak dalam darah, setelah mengonsumsi makanan yang mengandung lemak.

Mereka juga percaya, minum teh dapat melancarkan buang air seni, menghambat diare, dan sederet kegunaan lainnya. Setelah 5 ribu tahun kemudian, konsumsi dan produksi teh terus meningkat, dan sekitar tiga juta ton teh dipanen di seluruh dunia setiap tahunnya.

Aneka Kemasan Teh
Banyak teh dapat dijumpai di pasar atau toko swalayan dengan aneka kemasan, antara lain:
1. Teh Celup
Teh dikemas dalam kantung kecil yang biasanya dibuat dari kertas. Teh celup sangat populer karena praktis untuk membuat teh.
2. Teh Seduh
Teh dikemas dalam kaleng atau dibungkus dengan pembungkus dari kertas atau plastik. Takaran teh dapat diatur sesuai selera. Saringan teh dipakai agar teh yang terapung tak ikut terminum. Namun, cara ini sering dianggap tak praktis oleh para pencinta teh. Mangkuk teh bertutup asal Tiongkok yang disebut gaiwan dapat digunakan untuk menyaring daun teh saat menuang teh ke cangkir teh.
3. Teh Pres
Teh dipres agar padat untuk keperluan penyimpanan dan pematangan, contohnya teh pu erh, dijual dalam bentuk padat dan diambil sedikit demi sedikit saat akan diminum. Teh yang sudah dipres mempunyai masa simpan lebih lama dibandingkan daun teh biasa.
4. Teh Stik
Teh dikemas dalam stik dari lembaran aluminium tipis yang mempunyai lubang-lubang kecil sebagai saringan teh saat akan diseduh.
5. Teh Instan
Teh berbentuk bubuk yang tinggal dilarutkan dalam air panas atau air dingin. Pertama kali diciptakan pada 1930-an, tetapi tidak diproduksi hingga akhir 1950-an. Teh instan ada yang mempunyai rasa vanila, madu, buah-buahan atau dicampur susu bubuk.

Upacara minum teh

(茶道, sadō, chadō, jalan teh) adalah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chatō (茶の湯, chatō?) atau cha no yu. Upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut nodate.

Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh yang disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih lukisan dinding (kakejiku), bunga (chabana), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.

Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut.

Seni upacara minum teh memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan.

Pada umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang chanoyu2digiling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut matchadō, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchadō.

Dalam percakapan sehari-hari di Jepang, upacara minum teh cukup disebut sebagai ocha (teh). Istilah ocha no keiko bisa berarti belajar mempraktekkan tata krama penyajian teh atau belajar etiket sebagai tamu dalam upacara minum teh.

UPACARA MINUM TEH (SADŌ) BANGSA JEPUN

BAB I
PENDAHULUAN

Jepun telah menyerap banyak gagasan dari negara-negara lain di antaranya adalah teknologi, adat-istiadat dan bentuk-bentuk kebudayaan. Jepun telah mengembangkan kebudayaan yang unik sambil mengintegrasikan masukan-masukan kebudayaan dari luar itu. Akibatnya, gaya hidup orang Jepang dewasa ini merupakan perpaduan budaya tradisional di bawah pengaruh Asia dan budaya modern Barat.
Jepun turut mengembangkan budaya yang original dan unik; dalam seni (ikebana, origami, ukiyo-e); kerajinan tangan (pahatan, tembikar, boneka bunraku, tarian tradisional, kabuki, noh, rakugo); dan tradisi (permainan Jepang, onsen, sento, upacara minum teh, taman Jepang); serta makanan Jepang.
Jepang juga merupakan salah satu pengekspor budaya pop yang terbesar. Anime, mode, film, kesusasteraan, permainan video, dan musik Jepang menerima sambutan hangat di seluruh dunia, terutama di negara-negara Asia yang lain. Pemuda Jepang gemar menciptakan gaya hidup baru dan gaya hidup mereka memengaruhi mode dan gaya hidup seluruh dunia. Pemuda-pemudi Jepang juga merupakan penguji pertama bagi pendistribusian barang-barang elektronik baru sehingga sebelum diedarkan ke seluruh dunia diuji coba apakah sesuai gaya dan fungsinya menurut mereka.
Upacara minum teh merupakan warisan leluhur dan merupakan salah satu bentuk kebudaan tradisional Jepang yang unik dan berkarakter karena merupakan acara spiritual sekaligus pembelajaran untuk menghargai orang lain. Berawal dari kebudayaan-kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi spirit masyarakatnya untuk membangun Jepang.

Spirit tersebut menjadi katalisator kebangkitan mereka menjadi Macan Asia. Betapa canggih karakter tersebut sampai tidak lebih dari setengah abad Jepang telah berhasil membangun peradaban mereka yang kental unsur tradisi dan membudaya sejak ratusan tahun itu.



BAB II
PEMBAHASAN

Upacara minum teh (sadō; chadō) adalah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chatō (chatō) atau cha no yu. Upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut nodate.

II.1 Tata Cara Pelaksanaan dan Arti
Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh yang disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu, seperti memilih lukisan dinding (kakejiku), bunga (chabana), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.
Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi juga sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut.
Seni upacara minum teh memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan.
Pada umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang digiling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut matchadō, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchadō.
Dalam percakapan sehari-hari di Jepang, upacara minum teh cukup disebut sebagai ocha (teh). Istilah ocha no keiko bisa berarti belajar mempraktekkan tata krama penyajian teh atau belajar etiket sebagai tamu dalam upacara minum teh.

II.2 Sejarah
Lu Yu adalah seorang ahli teh dari dinasti Tang di Tiongkok yang menulis buku berjudul Ch'a Ching atau Chakyō (bahasa Inggris: Classic of Tea). Buku ini merupakan ensiklopedia mengenai sejarah teh, cara menanam teh, sejarah minum teh, dan cara membuat dan menikmati teh.
Produksi teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian setelah teh dibawa masuk ke Jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti Tang. Literatur klasik Nihon Kōki menulis tentang Kaisar Saga yang sangat terkesan dengan teh yang disuguhkan pendeta bernama Eichu sewaktu mengunjungi Provinsi Ōmi di tahun 815. Catatan dalam Nihon Kōki merupakan sejarah tertulis pertama tentang tradisi minum teh di Jepang.
Pada masa itu, teh juga masih berupa teh hasil fermentasi setengah matang mirip Teh Oolong yang dikenal sekarang ini. Teh dibuat dengan cara merebus teh di dalam air panas dan hanya dinikmati di beberapa kuil agama Buddha. Teh masih dinikmati di kalangan terbatas sehingga kebiasaan minum teh tidak sempat menjadi populer.
Di zaman Kamakura, pendeta Eisai dan Dogen menyebarkan ajaran Zen di Jepang sambil memperkenalkan matcha yang dibawanya dari Tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran Zen menjadi populer sebagai unsur utama dalam penerangan spiritual. Penanaman teh lalu mulai dilakukan di mana-mana sejalan dengan makin meluasnya kebiasaan minum teh.

Permainan tebak-tebakan daerah tempat asal air yang diminum berkembang di zaman Muromachi. Permainan tebak-tebakan air minum disebut Tōsui dan menjadi populer sebagai judi yang disebut Tōcha. Pada Tōcha, permainan berkembang menjadi tebak-tebakan nama merek teh yang yang diminum.
Pada masa itu, perangkat minum teh dari dinasti Tang dinilai dengan harga tinggi. Kolektor perlu mengeluarkan banyak uang untuk bisa mengumpulkan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh menjadi populer di kalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh secara mewah menggunakan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh seperti ini dikenal sebagai Karamono suki dan ditentang oleh nenek moyang ahli minum teh Jepang yang bernama Murata Jukō. Menurut Jukō, minuman keras dan perjudian harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus merupakan sarana pertukaran pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan pihak yang dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Jukō merupakan asal-usul upacara minum teh aliran Wabicha.
Wabicha dikembangkan oleh seorang pedagang sukses dari kota Sakai bernama Takeno Shōō dan disempurnakan oleh murid (deshi) yang bernama Sen no Rikyū di zaman Azuchi Momoyama. Wabicha ala Rikyū menjadi populer di kalangan samurai dan melahirkan murid-murid terkenal seperti Gamō Ujisato, Hosokawa Tadaoki, Makimura Hyōbu, Seta Kamon, Furuta Shigeteru, Shigeyama Kenmotsu, Takayama Ukon, Rikyū Shichitetsu. Selain itu, aliran Wabicha berkembang menjadi aliran-aliran baru yang dipimpin oleh Daimyo yang piawai dalam upacara minum teh seperti Kobori Masakazu, Katagiri Sekijū dan Oda Uraku. Sampai saat ini masih ada sebutan Bukesadō untuk upacara minum teh gaya kalangan samurai dan Daimyōcha untuk upacara minum teh gaya daimyō.

Sampai di awal zaman Edo, ahli upacara minum teh sebagian besar terdiri dari kalangan terbatas seperti daimyo dan pedagang yang sangat kaya. Memasuki pertengahan zaman Edo, penduduk kota yang sudah sukses secara ekonomi dan membentuk kalangan menengah atas secara beramai-ramai menjadi peminat upacara minum teh.
Kalangan penduduk kota yang berminat mempelajari upacara minum teh disambut dengan tangan terbuka oleh aliran Sansenke (tiga aliran Senke: Omotesenke, Urasenke dan Mushanokōjisenke) dan pecahan aliran Senke (Admin, 2008: 2).
Kepopuleran upacara minum teh menyebabkan jumlah murid menjadi semakin banyak sehingga perlu diatur dengan suatu sistem. Iemoto seido adalah peraturan yang lahir dari kebutuhan mengatur hirarki antara guru dan murid dalam seni tradisional Jepang.
Joshinsai (guru generasi ke-7 aliran Omotesenke) dan Yūgensai (guru generasi ke-8 aliran Urasenke) dan murid senior Joshinsai yang bernama Kawakami Fuhaku (Edosenke generasi pertama) kemudian memperkenalkan metode baru belajar upacara minum teh yang disebut Shichijishiki. Upacara minum teh dapat dipelajari oleh banyak murid secara bersama-sama dengan metode Shichijishiki.
Berbagai aliran upacara minum teh berusaha menarik minat semua orang untuk belajar upacara minum teh, sehingga upacara minum teh makin populer di seluruh Jepang. Upacara minum teh yang semakin populer di kalangan rakyat juga berdampak buruk terhadap upacara minum teh yang mulai dilakukan tidak secara serius seperti sedang bermain-main.
Sebagian guru upacara minum teh berusaha mencegah kemunduran dalam upacara minum teh dengan menekankan pentingnya nilai spiritual dalam upacara minum teh. Pada waktu itu, kuil Daitokuji yang merupakan kuil sekte Rinzai berperan penting dalam memperkenalkan nilai spiritual upacara minum teh sekaligus melahirkan prinsip Wakeiseijaku yang berasal dari upacara minum teh aliran Rikyū.
Di akhir Keshogunan Tokugawa, Ii Naosuke menyempurnakan prinsip Ichigo ichie (satu kehidupan satu kesempatan). Pada masa ini, upacara minum teh yang sekarang dikenal sebagai sadō berhasil disempurnakan dengan penambahan prosedur sistematis yang riil seperti otemae (teknik persiapan, penyeduhan, penyajian teh) dan masing-masing aliran menetapkan gaya serta dasar filosofi yang bersifat abstrak.
Memasuki akhir zaman Edo, upacara minum teh yang menggunakan matcha yang disempurnakan kalangan samurai menjadi tidak populer di kalangan masyarakat karena tata krama yang kaku. Masyarakat umumnya menginginkan upacara minum teh yang bisa dinikmati dengan lebih santai. Pada waktu itu, orang mulai menaruh perhatian pada teh sencha yang biasa dinikmati sehari-hari. Upacara minum teh yang menggunakan sencha juga mulai diinginkan orang banyak. Berdasarkan permintaan orang banyak, pendeta Baisaō yang dikenal juga sebagai Kō Yūgai menciptakan aliran upacara minum teh dengan sencha (Senchadō) yang menjadi mapan dan populer di kalangan sastrawan.
Pemerintah feodal yang ada di seluruh Jepang merupakan pengayom berbagai aliran upacara minum teh, sehingga kesulitan keuangan melanda berbagai aliran upacara minum teh setelah pemerintah feodal dibubarkan di awal era Meiji. Hilangnya bantuan finansial dari pemerintah feodal akhirnya digantikan oleh pengusaha sukses seperti Masuda Takashi lalu bertindak sebagai pengayom berbagai aliran upacara minum teh.
Di tahun 1906, pelukis terkenal bernama Okakura Tenshin menerbitkan buku berjudul The Book of Tea di Amerika Serikat. Memasuki awal abad ke-20, istilah sadō atau chadō mulai banyak digunakan bersama-sama dengan istilah cha no yu atau Chanoyu.


BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan pada bab sebelumnya dapat dikemukakan lima hal sebagai kesimpulan. Iima hal tersebut adalah sebagai berikut.
1. Upacara minum teh merupakan warisan leluhur dan merupakan salah satu bentuk kebudaan tradisional Jepang yang unik dan berkarakter karena merupakan acara spiritual sekaligus pembelajaran dalam menghargai orang lain yang kemudian menjadi spirit masyarakatnya untuk membangun Jepang
2. Upacara minum teh (sadō, chadō) adalah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu.
3. Produksi teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian setelah teh dibawa masuk ke Jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti Tang.
4. Acara minum teh merupakan sarana pertukaran pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan pihak yang dijamu.
5. Acara minum teh merupakan budaya yang masih bertahan hingga sekarang.

Lima hal inilah yang menjadi kesimpulan dalam makalah ini.

Budaya Antri

Budaya antri yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Jepang,
pantas di ajukan jempol dan patut di jadikan contoh.
Semenjak tinggal di Jepang ini saya selalu melihat orang berbaris
berjejeran dengan rapi, di depan tempat pembelian tiket, pintu
pintu masuk pertunjukan, menunggu giliran masuk di suatu restoran,
dan lainnya berhubungan dengan antri. Tampa ada rasa dorong mendorong,
dan berebutan saling mendahului.
Saya banyak sekali punya pengalaman antri lama sekali, berdiri hingga
1 jam, 2 jam, bahkan lebih, conyohnya waktu itu saya ingin melihat aquarium
ikan yang besar, dan pertunjukan aksi ikan lumba lumba dan anjing laut,
di tempat yang lumayan terkenal di wilayah Yokohama(Kanagawa ken/sebelah Tokyo).
Sewaktu mau beli tiket masuk,,,gila benerr,,,orang uda antri banyak,,bo,,,
mau ngak mau harus antri deh,,,

Kalou antri untuk membeli tiket, itu hal biasa yang saya lihat.Tapi adahal yang paling saya heran, yaitu antri ingin masuk disebuah tempat makan /restoran. padahal kalou saya pikir tempat makan yang lain banyak kenapa harus antri lama lam ya.a.a..Tapi yang lebih aneh lagi sekarang saya ikut ikutan antri lamakalou mau masuk restoran..he..hhee..,..karena rata rata kalou uda orang banyak tunggu di luar artinya masakan di restoran itu pasti enak,,,gara gara enak, saya bela belain tunggu 1 jam lebih.

Fenomena Kaum Muda Jepang Mencari Identitas

MENENGOK ke belakang bangsa yang berbentuk kepulauan
terbentang dari Timur Laut ke Barat Daya di lautan bagian Timur benua Asia,
dengan luas kurang lebih 1/5 luas Indonesia ini sungguh sangat menarik.
Bangsa yang dulunya terkenal dengan politik isolasi yang sangat ketat dalam
sejarah bangsa-bangsa besar pada zaman Tokugawa, kini telah mengalami suatu
lompatan jauh sebagai bangsa yang berjaya di dunia, setelah mengalami suatu
revolusi spektakuler pada tahun 1868 yang terkenal dengan nama Restorasi
Meiji yaitu dengan semangat yang mereka tanamkan, Teknologi Barat dan
Semangat Timur (wakon yoosai) ke dalam sanubari rakyat Jepang.

Masa yang ditandai oleh perubahan yang menyeluruh sesudah
kedatangan Komodor Perry itu membawa suatu iklim kebebasan, ambisi,
vitalitas dan panggilan jiwa terhadap atmosfir baru kehidupan. Di mana-mana
eforia bermunculan, kekangan-kekangan dilenyapkan, muncul sikap keterbukaan
yang menggelora. Jepang yang sudah tertutup rapat bagi seluruh dunia hampir
dua abad lamanya mulai membuka jendela kehidupannya lebar-lebar terhadap
pengaruh luar.

Perubahan cenderung melahirkan perbedaan yang mencolok
antara satu generasi dengan generasi lain. Kelompok kaum muda pada masa
Meiji memiliki kesadaran untuk mencapai jenjang pendidikan yang lebih
tinggi, tumbuh dan berkembang suatu kesadaran akan diri sendiri dan suatu
perasaan memiliki identitas sebagai suatu generasi.

Anak muda Jepang saat itu walaupun masih menghargai
keberadaan generasi tua, namun pengetahuan dan kemampuan yang diwarisi
generasi tua tidaklah sesuai dengan pembaharuan yang tengah terjadi. Menurut
Kokumin no Tomo sebuah majalah terbitan anak muda Jepang antara tahun
1880-1890-an, menyatakan bahwa "orang tua masa kini sudah tidak berguna lagi
bagi masyarakat. Sayang sekali bahwa zaman yang penuh kemajuan, keberadaan
mereka merupakan beban yang menyusahkan saja"

Menurut Ozaki Yukio (1859-1954), dalam "Kajian Tentang
Pemuda" dinyatakan bahwa, masyarakat tergantung kepada kemauan membangun
dari generasi muda dan kemauan yang bersikap konservatif dari generasi tua,
namun saat itu Jepang berada dalam suatu masa pembangunan kembali yang
pesat, maka "Jepang masa kini menjadi milik kaum muda, bukan kaum tua".

Anak muda sekarang

Kata orang bijak, maju mundurnya suatu bangsa tergantung
dari perilaku pemudanya. Potret pemuda Jepang di era 2000-an, sungguh sangat
berbeda dengan keberadaan "mereka" sebagai pemuda pada masa pemerintahan
Meiji. Tanpa bermaksud ngeblok terhadap status quo, menurut hemat penulis
bahwa cara berpikir, perilaku pemuda Jepang sekarang ada kecenderungan
mengarah pada westernisasi yang kebablasan, meskipun parameternya tidak
jelas untuk mendefinisikan kebablasan itu.

Jepang merupakan Parisnya Asia, segala bentuk mode pakaian
akan bisa kita temui di sana. Begitu juga perilaku anak muda sekarang,
dengan rambut di cat dan sepatu dengan sol tinggi (dapat mencapai 20 cm)
sudah bukan pemandangan yang aneh lagi. Utamanya bila kita pergi ke pusat
kota misalnya di Perfektur Aichi yaitu di daerah Nagoya, atau tempat-tempat
trendi di Tokyo, seperti Shinjuku, Shibuya, Harajuku atau pusat
elektroniknya di Akihabara, merupakan tempat anak muda Jepang "nyantai".

Ibarat sebuah permainan karambol, pantulan bolanya
mengarah ke mana-mana, begitu pula trend yang dilakukan dan digunakan oleh
anak muda Jepang, telah membias ke negara tetangganya, seperti China, Korea,
Hongkong, Taiwan, Filipina, atau bahkan telah merasuk ke dalam jiwa anak
muda Indonesia, (dapat kita lihat dandanan pemuda kita yang menggunakan
anting-anting untuk laki-laki dan pengecatan rambut yang begitu mencolok
baik laki-laki maupun perempuan). Gaya berpakaian, perilaku sehari-hari yang
aneh, merupakan pantulan cermin dari sekian banyak sisi anak mudah Jepang
yang telah meng-epidemi.

Kita sering mendengar ungkapan work alcoholic bagi orang
Jepang, atau dalam bahasa Jepangnya terkenal dengan nama Hatarakibachi.
Dengan kecenderungan anak muda Jepang dewasa ini (usia di bawah 30), terjadi
suatu kontradiksi dengan stereotipe orang Jepang yang suka bekerja keras,
kehidupan yang cenderung monoton, dan perlakuan terhadap wanita. Sungguh
dalam satu generasi terjadi Kyuugeki ni Bunka no Henka (perubahan budaya
yang begitu cepat).

Mencari identitas

Kebebasan menurut Albert Camus bukanlah sebuah hadiah
cuma-cuma, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan. Mengapa anak muda
Jepang sekarang begitu penuh vitalitas dan stamina yang prima dalam gaya dan
penampilan serta cenderung atraktif dan dinamis. Jawabnya adalah mereka
ingin mencari identitas. Kebebasan itulah yang sekarang ini diperjuangkan
sebagai bagian dari kenka (berkelahi) dalam mencari jati diri mereka yang
sebenarnya.

Meskipun tidak revolusioner, penampakan jati diri dengan
perilaku dan pemilihan busana yang nganeh-nganehi berlanjut menjadi trend
dan akhirnya menjadi panutan.

Kalau melihat rentetan sejarahnya, Kaum Muda Jepang Baru
setelah tahun 1868 menaruh minat pada isi pendidikan yang baik bagi generasi
baru ini. Sebelum Restorasi Meiji, pemerintahan feodal yang diperintah oleh
"kediktatoran adat-istiadat" telah menekan pendidikan dan mengekang
kreatifitas pemikiran yang progresif.

Dalam buku "Jepang Masa Depan" (1886), karya Tokutomi
Iichiro, atau belakangan terkenal dengan Tokutomi Soho, memakai konsep
Herbert Spencer mengenai evolusi dalam struktur sosial yang menjadi sumber
inspirasinya. Ia berkeyakinan bahwa untuk maju Jepang harus menyerupai
masyarakat Barat, dan sesungguhnya kemajuan Jepang hanya dapat diukur
berdasarkan hasil upayanya untuk menanamkan unsur yang menyerupai barat
(westernisasi).

Kembali ke perilaku anak muda Jepang sekarang yang
cenderung ekstrovet, memang analisis Tokutomi ini akan mendekati kenyataan,
dengan berkaca pada perilaku gaya anak muda Amerika, segala tingkah laku
mereka meguru ke negara Paman Sam.

Sejak di bom atom Hiroshima dan Nagasaki pada PD II,
bangsa Jepang seolah-olah bangkit dari tidur. Bangsa yang dulunya menganggap
sebagai keturunan dewa, berusaha bangkit dari keterpurukan. Sejak saat
itulah masyarakat (orang tua) Jepang yang sekarang menjadi manusia super
sibuk dalam memulihkan dan menumbuhkan ekonomi Jepang.

Tidak dapat dipungkiri bahwa hatarakibachi (workacoholic)
telah membalikkan kondisi Jepang dari keterpurukan menjadi kedigdayaan, yen
melimpah ruah, munculnya masyarakat ekonomi menengah yang kuat. Namun, dari
semua itu yang menjadi korban adalah keluarga mereka, terutama anak-anak.

Sudah menjadi rahasia umum, dengan ambisi mencari ekonomi
yang mapan, masyarakat Jepang bekerja dari pagi hingga larut malam
menyerupai kehidupan robot serta perputaran yang monoton bagaikan belt
conveyor (roda berputar ) yang di dalam benak mereka hanya satu yaitu kerja
keras. Memang para orangtua Jepang mampu membelikan barang dan permainan apa
saja yang diinginkan anaknya. Ironisnya "jajan" tersebut tidak mampu
menggantikan perhatian penuh dari orangtua. Mereka sedikit sekali
menyisahkan waktu untuk anak-anaknya.

Manifestasi dari "keengganan" orangtua menemui
anak-anaknya, maka terjadilah jembatan yang terputus hubungan antara orang
tua dan anak muda. Begitu lebarnya tali silaturrahim itu, membuat anak muda
Jepang merasa hidup sendiri, dan sebagai kompensasinya mereka bergerilya
untuk menemukan jati diri sendiri. Kesempatan untuk itu mereka dapatkan
dengan melakukan kebebasan bertindak seluas-luasnya.

Jepang sebagai negara maju memenuhi kriteria sebagai
negara industri, termasuk perilaku anak mudanya sekarang dalam mencari
kebebasan. Di antara ciri-ciri masyarakat industri adalah kebebasan yang
diberikan masyarakat kepada penduduknya, maka regimentasi terhadap
perorangan melonggar dan kekuasaan sewenang-wenang berubah. Tempat tinggal,
pekerjaan, perilaku ditentukan sendiri oleh pilihan tiap-tiap orang, dan
bukan sesuatu hal yang diwariskan, begitulah gambaran anak muda Jepang
sekarang.

Kehidupan masyarakat Jepang tempo dulu kelihatan monoton
dan lempeng saja, namun di kalangan anak muda sekarang lebih bebas dan
wanitanya lebih bergelora (kalau tidak mau dikatakan kelewatan).

Menurut beberapa pendapat orang tua Jepang, saat ini
merupakan saat yang sulit, karena anak muda yang tidak hirau pada
kebudayaanya dan lebih mementingkan diri sendiri. Padahal anak muda Jepang
tidak lama lagi akan memasuki usia kerja. Perubahan yang mencolok pada
kebudayaan Jepang akan dapat terlihat begitu anak mudanya sekarang menjadi
"aktor" pada birokrasi dan pelaku bisnis Jepang.

Stereotipe baru

Sejak anaknya masih kecil orangtua telah memikirkan apa
yang harus dilakukannya agar anaknya dapat masuk sekolah favorit. Maka para
orangtua kebanyakan mengangkat seorang tutor khusus dan menyuruh anak mereka
masuk sekolah tertentu di mana diberikan pelajaran tambahan yaitu sekolah
juku.

Ada anggapan umum dari para orang tua Jepang, bila dapat
masuk ke Perguruan Tinggi (PT) favorit akan dapat mendapatkan pekerjaan yang
mapan, sehingga mereka berlomba-lomba untuk lulus ujian karena merupakan
suatu prestise. Berapa banyaknya jumlah mereka yang masuk juku, bukan hal
penting, namun hal yang fundamental adalah kualitas hidup pemuda dalam
bahaya. Bagi mereka yang tidak ikut juku pulang sekolah merasa kesepian,
karena teman-temannya hampir semua ikut juku.

Banyak orang menaruh perhatian pada sistem ujian masuk
Perguruan Tinggi, mereka cemas memikirkan sistem ujian dengan persaingan
yang ketat telah menjadi sebab kualitas hidup remaja menurun. Banyak remaja
Jepang bunuh diri kerap kali dihubungkan dengan persaingan dalam ujian.
Secara psikologis mereka lelah karena dalam mengikuti juku kurang lebih
dibutuhkan waktu 3 jam tambahan setiap hari setelah pulang sekolah, sehingga
hampir jam 8 malam baru dapat pulang. Hasilnya, apabila gagal dalam ujian
secara mental akan down dan malu.

Dari rutinitas di atas, anak muda Jepang sekarang mencari
kompensasi dengan melakukan kebebasan dan menentang orangtua. Malas dan
bandel, cenderung memberontak tatanan (GPK=gerakan pengikut kebebasan)
merupakan gambaran yang pas untuk merefleksikan stereotipe para muda Jepang
sekarang.

Kesibukan orangtua dalam pekerjaan, membuat anak-anak
mereka minus perhatian, akibatnya para muda Jepang bertolak belakang
perilakunya dengan orangtua mereka, model baru manusia Jepang yang bebas dan
"semau gue" muncul ke permukaan.

Kalau kita pergi ke Nagoya, khususnya ke Sakae dan
Oshukannon (pusat perbelanjaan elektronik), sering kita jumpai anak muda
berpose manusia "planet" , khususnya wanita, dengan dandanan yang trendi dan
lain dari pada yang lain, tubuh remaja Jepang yang putih di make up secara
keseluruhan dengan warna coklat menyerupai orang yang tinggal di tepi pantai
(gosong). Semuanya serba liberal, enjoy, dan pokoke aku kok dalam pikiran
mereka.

Saat penulis melakukan penelitian di Nagoya mengenai Ojigi
(budaya Jepang dengan menundukkan kepala bila bertemu orang lain), lewat
observasi hampir 70% anak mudah Jepang tidak melakukan Ojigi bila bertemu
dengan orang lain, sebagai gantinya mereka hanya say hello terutama kepada
teman sebaya. Dekadensi kesopanan yang mulai luntur, mencemaskan semua
pihak. Sebagai ilustrasi ketika berada di Chikatetsu (sub way), orang tipe
lama akan memberikan tempat duduk kepada manula, bukan sebaliknya seperti
sekarang mereka hanya cuek bebek, pura-pura tidak tahu. Justru ironisnya
orang asing yang mengalah memberikan tempat duduk.

Menurut Sakakibara seorang guru SD (orang tua homestay),
generasi muda Jepang memang sulit diatur, mereka cenderung sulit dibatasi
dan bebas bertindak dan suka memberontak yang seolah-olah mencari "rumah"nya
yang hilang.

Manabu Sato, Professor pendidikan dari Universitas Tokyo
(dalam Azrul Ananda) berpendapat bahwa tingkah pola para muda Jepang
sekarang adalah tradisi yaitu rites of passage (semacam ritual serah terima
atau inisiasi). Orang tua mereka diinisiasikan dengan perang dunia kedua,
dan berkewajiban membangun kembali Jepang. Para muda sekarang tidak punya
ritual inisiasi, maka generasi muda harus menciptakan sendiri. Kita hanya
bisa menunggu hasil apa yang akan diperoleh dengan ke-cuek-an para muda
Jepang sekarang dalam menyatukan mereka dimasa mendatang.

Ada hal positif dari para muda Jepang sekarang, meskipun
bandel dan malas namun kreativitas mereka bermunculan, terutama dalam
berdandan yang menjadi rujukan kawula muda negara tetangga. Sekarang
zamannya telah byoodo (antara pria dan wanita mempunyai persamaan hak dan
kewajiban). Gaya dandan keduanya semakin atraktif mulai hidung, bibir yang
dipasang anting-anting hingga daerah alis mata, untuk cowok suka pakaian
belel dengan rambut model nakata, untuk ceweknya dengan pakaian kurang kain
(super mini) plus make up mencolok dengan sepatu atsuzoko (sol tebal).

Banyak sekali orang Jepang tempo dulu yang harus "mengelus
dada", melihat perilaku anak muda Jepang sekarang. Tapi bagi "professional
muda" Jepang inilah momen yang pas untuk menunjukkan jati diri dalam
menyatukan visi mereka di masa datang. Salah satunya adalah cara dandan
mereka yang berbeda dengan generasi sebelumnya yang telah menjalar ke
pelosok negeri dan mancanegara. Apakah masa depan bangsa hanya akan dilihat
dari cara dandannya? Apakah ini sebuah identitas? Meskipun tidak sedikit
orang Jepang sendiri yang harus mengatakan "Mau jadi apa mereka nanti"?
Bagaimana dengan Indonesia?***

Penulis adalah mahasiswa S2 Bahasa Jepang UPI. 4